Cara hidup dan berkembangbiak virus

Louis Pasteur mencurigai sesuatu yang lebih kecil dari bakteri yang menyebabkan rabies. Untuk bahan menular kecil ini ia menggunakan istilah Latin yaitu “racun.” Ahli biologi Rusia Dmitri Ivanovsky meneliti virus mosaik pada tembakau. Pada tahun 1892 ia menegaskan hipotesis Pasteur dari agen infeksius lebih kecil dari bakteri. Penemuan mikroskop elektron pada abad kedua puluh memungkinkan visualisasi dari agen-agen infeksius yang kita kenal sebagai virus.

Nama Virus diciptakan dari kata Latin yang berarti cairan berlendir atau racun. Informasi genetik virus dapat berupa DNA atau RNA dengan untai tunggal atau ganda. Walter Reed menemukan virus manusia pertama, virus demam kuning, pada tahun 1901.

Virus bukan makluk hidup – mereka bahan organik kompleks yang mati. Mereka tidak memiliki bentuk energi, metabolisme karbon, dan tidak bisa meniru atau berkembang biak. Virus direproduksi dan berkembang hanya dalam sel hidup. Virus influenza yang menyerang manusia pertama diisolasi pada tahun 1933. Virus terbesar yang dikenal adalah mimiviruses, dengan diameter 400 nanometer (0,0004 milimeter).

Genom virus ini terdiri dari 1.200.000 nukleotida dan mengkode untuk lebih dari 900 protein. Virus terkecil yang dikenal adalah virus Circo, dengan diameter 20 nanometer (0,00002 milimeter). Genom virus ini terdiri dari 1.700 nukleotida dan mengkode untuk dua protein.

Cara hidup virus

Virus hidup sebagai parasit obligat (parasit sejati). Tempat hi dupnya di dalam jaringan tubuh organisme lain (tubuh manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan). Jadi, virus hanya dapat hidup secara parasit pada sel organisme lain.

Cara berkembangbiak virus

Virus hanya dapat berkembang biak pada sel-sel hidup dan untuk reproduksinya virus hanya memerlukan asam nukleat. Karena dapat melakukan reproduksi, maka virus dianggap sebagai makhluk hidup (organisme).

Di dalam proses reproduksi, virus memerlukan lingkungan sel hidup (di dalam jaringan tubuh) sehingga virus memerlukan organisme lain sebagai inang atau hospesnya. Contoh organisme yang menjadi hospes virus adalah bakteri, jaringan embrio, hewan, tumbuhan, dan manusia. Proses reproduksi virus disebut replikasi (penggandaan diri tubuh virus). Proses replikasi virus semenjak menempel pada sel inang sampai terbentuknya virus yang baru melibatkan siklus litik dan siklus lisogenik. Perhatikan Gambar di bawah.

Siklus litik adalah replikasi virus yang disertai dengan matinya sel inang setelah terbentuk anakan virus yang baru. Siklus litik virus yang telah berhasil diteliti oleh para ilmuwan adalah siklus litik virus T (Bacteriophage), yaitu virus yang menyerang bakteri Escherichia coli (bakteri yang terdapat di dalam colon atau usus besar manusia).

Siklus litik Bakteriofag terdiri atas 5 fase, yaitu fase adsorbsi, fase penetrasi sel inang, fase eklifase, fase replikasi, dan fase pemecahan sel inang. Berikut penjelasannya.

Siklus litik dan lisogenik Bakteriofag

1). Fase Adsorbsi

Pada fase ini, ujung ekor Bakteriofag menempel atau melekat pada bagian tertentu dari dinding sel bakteri yang masih dalam keadaan normal. Daerah itu disebut daerah reseptor (receptor site atau receptor spot). Virus yang menyerang bakteri E. coli, memiliki lisozim (lisozyme) yang berfungsi merusak atau melubangi dinding sel bakteri.

2). Fase penetrasi sel inang

Pada fase ini, kulit ujung ekor virus T dan dinding sel bakteri E. coli yang telah menyatu tersebut larut hingga terbentuk saluran dari tubuh virus T dengan sitoplasma sel bakteri. Melalui saluran ini ADN virus merusak ke dalam sitoplasma bakteri dan bercampur dengannya.

3). Fase eklifase

Pada fase ini, setelah bercampur dengan sitoplasma bakteri, ADN virus mengambil alih kendali ADN bakteri. Pengendalian ini terjadi di dalam proses penyusunan atau sintesis protein di dalam sitoplasma bakteri. Seterusnya ADN virus mengendalikan sintesis protein kapsid virus.

4). Fase replikasi (fase sintesis: penyusunan)

Virus baru pada fase ini mulai dibentuk. ADN virus T mengadakan pembentukan atau penyusunan ADN virus yang baru, dengan menggunakan ADN bakteri sebagai bahan materinya, serta membentuk selubung protein kapsid virus. Maka terbentuklah beratus-ratus molekul ADN baru virus yang lengkap dengan selubungnya. Setiap sel bakteri E. coli yang diserang oleh virus T dapat menghasilkan 200-300 virus T yang baru.

5). Fase pemecahan sel inang atau litik

Setelah terbentuk virus T yang baru, dinding sel bakteri akan pecah (litik). Selanjutnya sejumlah virus T yang baru tersebut akan keluar dan siap untuk menyerang sel bakteri E. coli yang baru (yang lain). Selain secara litik, reproduksi virus juga bisa terjadi secara lisogenik. Pada siklus lisogenik, ADN atau ARN virus menempel pada kromosom sel inang (membentuk profage) dan mengadakan replikasi. Bedanya dengan siklus litik, pada siklus lisogenik sel inang tidak pecah atau mati, sehingga setiap kali sel inang membelah di dalamnya juga terdapat virus-virus yang berkembangbiak.


Related Posts